Rabu Kliwon,  17 Oktober 2018 07:07 WITA
Jl. Basuki Rachmat Niti Mandala Renon, Bali
birohumas@baliprov.go.id
+62 361 - 224671 ext 503 (Hotline)
   
FOTO KEGIATAN
Foto Kegiatan Lainnya

TABLOID BALI MANDARA

Oktober, 2018
MSSR KJS
 123456
78910111213
141516 17181920
21222324252627
28293031   

KRITIK DAN SARAN
21 April 2018
  iwayan budihartawan
  Penyaluran Bedah Rumah Yang Tepat
 
08 Februari 2018
  Alvin Perdana
  Pantai Kuta penuh sampah
 
01 Februari 2018
  I Gede Ardana
  Toilet di kantin ktr gubeenur bali
 
06 Januari 2018
  Putu sugianto
  Bedah rumah
 
18 Desember 2017
  Gede Arnaya
  SK Gubernur terkait Dispensasi hari Suci Hindu
 


Chat Support
  Chatting Support 1 :
Chatting Support 2 :
 
 
BERITA DETAIL
http://www.birohumas.baliprov.go.id/ - Selasa, 26 Desember 2017
Sejarah Desa Selat, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung
Dibaca: 668 Pengunjung


Oleh : I Ketut Yadnya Winarta

Kata “Selat” banyak dipakai sebagai nama desa di banyak tempat. Kalau kita amati secara lebih dekat, maka semua desa yang bernama “Selat” selalu ada di wiayah perbatasan, khususnya wilayah perbatasan kerajaan atau kekuasaan. Contoh contoh desa yang bernama Selat: Desa Selat Kuwum ada di perbatasan wilayah perbatasan kerajaan Mengwi dengan kerajaan Tabanan, Desa Selat Duda Karangasem, Desa Selat Klungkung adalah perbatasan wilayah kekuasaan kerajaan Klungkung dengan kerajaan Karangasem. Dan banyak lagi nama desa Selat di Bali. Desa Selat Abiansemal adalah perbatasan wilayah kerajaan Mengwi dan Kerajaan Klungkung.
Penduduk Desa Selat dahulunya mendiami wilayah Desa Gerana yang terletak di Barat Laut Desa Selat . Kemudian di tahun 1890 ada peralihan kekuasaan dimana seuruh wilayah Mengwi sudah dikuasai oleh Kerajaan Badung yang berpusat di Denpasar. Desa Adat Selat dan Desa Adat Gerana termasuk Desa Blahkiuh, diserahkan kepada  kekuasan Raja Carangsari yang merupakan saudara Raja  Mengwi pada saat itu yang bernama I Gusti Agung Nyoman Kaler (1890-1992).
Setelah terjadi perdamaian antara kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung maka terjadi kesepakatan batas-batas wilayah. Wilayah Carangsari dikuasai oleh Kerajaan Badung. Wilayah-wilayah yang dulunya pernah diserahkan ke Carangsari kemudian dikembalikan ke kekuasan Mengwi dan perintah dari kekuasan Raja Abiansemal.
Untuk memperjelas wilayah kekuasaan dan kesetiaan penduduknya maka pada tahun 1901 diadakan pertukaran peduduk, dimana penduduk yang menjadi wilayah kekuasaan Mengwi dipindahkan ke Bagian Timur, karena kerajaan Mengwi tunduk ke kerajaan Klungkung sedangkan penduduk yang wilayahnya sudah dikuasai oleh Kerajaan Badung dipindahkan ke sebelah Barat. Penduduk Desa Selat yang dulunya ada di Desa Adat Gerana adalah wilayah Mengwi yang condong ke kerajaan Klungkung makanya dipindahkan ke bagian Timur.
Penduduk-penduduk yang dipindah adalah sebagai berikut:
1.    Banjar Pacung wilayah Blahkiuh dipindahkan ke Gerana, yang ditempatkan di sebelah barat sekarang bernama banjar Pacung.
2.    Penduduk Banjar Tegal Gerana bersama Puri Gerana dipindahkan ke Selat, yang menjadi Banjar Tegal Selat,  
3.    Penduduk Banjar Batu Lumbang dipindahkan menjadi Penduduk banjar Adat Selat dan sebagian pindah ke Desa Adat Sangeh yang kemudian menjadi banjar Batu Sepih, dan sekarang menjadi Banjar Batu sari Sangeh.

Selain penduduk Desa Adat Selat yang ditukar dengan Desa Adat Gerana, pertukaran juga terjadi antara Desa Adat Samuan dengan Desa Adat Bongkasa.
Memasuki era penjajahan Jepang, penduduk Desa Gerana terpisah berdiri sendiri menjadi satu perbekelan, sedangkan Desa Selat, Taman dan Punggul menjadi satu perbekelan dengan pemerintahan berpusat di Desa Selat. Kemudian pada masa Kemerdekaan tahun 1945, Sangeh dan Selat menjadi satu perbekalan. Sementara Gerana bergabung dengan Samuan. Pada tahun 1945, Desa Sangeh, Selat dan Gerana mejadi satu perbekelan, dengan pemerintahan berpusat di Sangeh.
Mengingat wilayah Desa Dinas Sangeh sangat luas dan banyaknya penduduk, maka untuk pelayanan yang dekat dan cepat, maka dipandang perlu untuk pemekaran menjadi dua daerah pemerintahan dinas, yaitu, Desa Sangeh dan Desa Selat, dengan surat keputusan Bupati Badung No. 342 Tahun 2002 tanggal 12 Maret 2002, Desa Selat menjadi Desa Dinas Selat dan terpisah dengan Desa Dinas Sangeh. Perbatasan wilayah kedua desa adalah sebuah aliran sungai kecil antara kedua desa, yaitu Sungai Yeh Adeng.

 

Dibaca: 668 Pengunjung


 
Berita Lainnya
19 Juli 2018 : Terima 30 Orang CPNS Kemendagri Lulusan IPDN, Sekda Dewa Indra Tekankan Jangan Bersikap Eksklusif
18 Juli 2018 : Gubernur Pastika : Perdalam Pemahaman Makna Upacara, Pertebal Sradha dan Bhakti Kehidupan Beragama Umat Hindu
18 Juli 2018 : KUNJUNGI SURABAYA, BIRO HUMAS DAN PROTOKOL SETDA PROV. BALI MENGGANDENG AWAK MEDIA UNTUK MENGETAHUI PENGOLAHAN SAMPAH
17 Juli 2018 : Perlahan Penuhi Kuota Ideal, Kepala BPSDM Lantik Widyaiswara
17 Juli 2018 : Gubernur Pastika Ambil Sumpah 50 PNS di Lingkungan Pemprov Bali
Cari berita :    
 
YOUTUBE
Video Kegiatan Lainnya

VIDEO STREAMING
Perbesar Video

INFO PENTING
Bali Safety
 
Daftar Muspida/Pejabat
 
Kedutaan Asing
 
Kurs Rupiah
 
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
 
Nomor Telpon Penting
 
Rumah Sakit di Bali
 

JAJAK PENDAPAT
Apakah Anda Sudah Memahami Program Bali Mandara ?
Sangat Paham
Paham
Agak Paham
Belum Paham
 
Responden : 331 Responden
Lihat hasil





Informasi

Beranda
 
Peta Situs
 
Situs Terkait
 
Saran
 
Kontak
 
Mobile
 

Situs Terkait
 
Data Peraturan Hukum Provinsi Bali
 
Pemerintah Kabupaten Jembrana
 
Pemerintah Kabupaten Bangli
 
Pemerintah Kota Denpasar
 
Pemerintahan Kabupaten Karangasem
 
Situs Terkait Lainnya
Pengunjung


5900461

Pengunjung hari ini : 283
Total pengunjung : 726657

Hits hari ini : 1792
Total Hits : 5900461

Pengunjung Online: 15


Info Kontak

Jl. Basuki Rachmat Niti Mandala Renon, Bali
Telp : +62 361 - 224671 ext 503 (Hotline)
Telp : +62811 3881 875 (SMS)
Email : birohumas@baliprov.go.id
Website : http://birohumas.baliprov.go.id


Copyright © 2013 birohumas.baliprov.go.id - Biro Humas Sekretariat Daerah Provinsi Bali - Bali Indonesia. All Right Reserved.